Mbah marijan dan anggota DPR

Standard

Sedih memang mendengar berita kabar meninggalnya mbah marijan, pada selasa malam, 26 oktober yang lalu. Orang tua yang selalu setia “menjaga” gunung merapi ini hingga akhir hayatnya telah memberikan banyak teladan kepada orang – orang, baik yang menegnal dia secara pribadi maupun hanya mengetahuinya lewat acara – acara di TV.

Suatu kebangaan, ketika di dalam proses kematiannya, ia menunjukkan kesetiaannya kepada alam, kepada Merapi yang telah menjadi “sahabatnya” selama setengah dari hidupnya, dan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang telah memberikan dirinya mandat untuk menjaga symbol kekuasaan Keraton Yogyakarta dan menjaga tradisi masyarakat jawa.

Mbah marijan ditemukan meninggal dunia dengan posisi bersujud di ruang dapurnya dalam keadaan hangus, berserta puluhan orang lainnya, entah yang memang mengikuti dia atau yang berusaha membawa mbah itu turun gunung. Tidak tahu persis memang, tetapi untuk saat ini bisa dikatakan mbah marijan keras kepala dengan pendiriannya untuk tetap tinggal di merapi walau bahaya semakin mengancam.

Teringat kembali dengan peristiwa merapi 2006 silam ketika namanya mulai mengangkat dan terkenal bagaikan artis, bahkan ia didalulat untuk membintangi suatu iklan dengan tagline nya terkenal “ROSO”. Waktu itu mbah maridjan juga diminta untuk turun gunung, karena petugas takut sang sesepuh itu terkena wedhus gembel, tetapi mbah maridjan bergeming tidak ingin turun, bahkan setelah erupsi telah selesai, ia menjalankan upacara di wilayah gunung merapi.

Sungguh suatu kesetiaan yang luar biasa, ketika ia hidup di dalam zaman teknologi yang menolak beberapa pemikiran Mbah Maridjan mengenai merapi, ketika ia hidup di dalam zaman ekonomi – kapitalis yang menertawakan gaya hidupnya sebagai seorang kuncen yang hanya berpenghasilan 20 ribu dari pihak Keraton Yogyakarta, dan ketika para elite politik menertawakannya karena Sang Sultan sendiri tidak terlalu memperhatikan kata – kata abdi dalemnya itu, bahkan dalam kematiannya yang menurut saya merupakan suatu keberanian yang luar biasa, dia malah dimakamkan dengan cara biasa (entah memang alasannya karena permintaan dari pihak keluara, aturan dari pihak keraton, atau upaya pencegahan pengkultusan yang berlebihan terhadap beliau).

Pilih saya, maka rakyat akan sejahtera, atau pilih si anu, amanah dan merakyat! Masih ingatkah anda dengan iklan – iklan murahan minim inovasi yang bertebaran di baliho pada Pemilu legislative 2009 yang lalu. Semua mengumbar janji, jika terpilih akan mensejahterahkan rakyat.

Bacalah Media Indonesia edisi 26/10/10 edisi parlementaria, disana dimuat tulisan dari sekjen DPR RI yang menuliskan “Urgensi Pembangunan Rumah Dinas Anggota DPR sebagai pejabat Negara” dengan tulisan pembukanya : Negara berkewajiban menyediakan fasilitas bagi pejabat Negara, salah satunya berupa penyediaan fasilitas rumah dinas”. Inti dari tulisan adalah klarifikasi dan argument sekjen DPR RI mengenai renovasi dan pembangunan rumah dinas DPR adalah perlu dan penting, dengan berlindung di bawah hukum sesungguhnya argument sekjen itu telah melukai hati rakyat. Dalam paparannya, Negara berkewajiban membuat rumah bagi anggota DPR yang terhormat yang sebagian besar beruang. Sungguh sedih saya membaca tulisan pak sekjen itu, ketika bencana alam wasior meluluhlantakkan infrastruktur dan psikologis warga wasior, ketika barak di gunung merapi mini fasilitas, dan ketika pemerintah pusat RI meminta tambahan 150 miliar untuk membantu korban tsunami mentawi, DPR RI dengan bangganya (dengan dalil penghematan) menyatakan telah menghabiskan hamper 400 miliar membangun kompleks kediaman yang sedianya tidak tepat saat ini, mengingat sebagian besar anggota DPR termasuk berkecukupan dengan gaji dan tunjangan dari DPR yang lebih dari lumayan untuk tinggal di Jakarta berikut fasilitas yang wah bagi sebagian rakyat Indonesia.

UU dibuat bertujuan untuk mengatur negara agar mampu mensejahterahkan rakyat, dan dengan jelas untuk mengatur seluruh lapisan masyarakat termasuk elite pemerintahan agar berkerja untuk rakyat. Tetapi nyata – nyata nya banyak UU, Perpu, Perda, dan aturan pemerintah lain yang digunakan untuk menguntungkan kepentingan sekelompok orang tertentu. Ketika banyak media dan golongan masyarakat membicarakan Kapolri yang baru, diluar sana banyak anak jalanan yang menuntut hak nya untuk diperhatikan masyarakat dan negara.

Sungguh jahatnya DPR RI melakukan pelbagai perjalanan ke luar negeri dengan dalih studi banding. Apa sih yang didapat mereka, tidak ada keselasan. Dibandingkan dengan studi banding yang dilakukan oleh seorang Profesor misalnya, tarulah dia tidak akan menghabiskan uang lebih dari 1 M selama sepekan, tetapi sekelompok anggota DPR yang berpelesiran ke luar negeri dengan tega – teganya menghabiskan miliaran rupiah dengan indahnya tanpa hasil yang jelas, padahal diluar sana banyak sekolah yang reyot tidak bisa berenovasi karena tidak adanya anggaran. 1,9 Triliun dikabarkan anggaran yang dialokasikan DPR untuk agenda jalan – jalannya selama setahun, sungguh angka yang fantastis, mengingat bisa digunakan untuk menambal anggaran ALUTSISTA RI yang selalu didera permasalahan klasik, minimnya anggaran.

Beberapa waktu yang lalu dikabarkan DPR berencana mengucurkan dana 1,8 Triliun untuk membangun gedung baru di kompleks senayan. Pentingkah, haruskah dibangun gedung dengan anggaran sebanyak itu, di saat Jakarta masih banjir dan anggaran kesehatan masih terbatas.

Para anggota dewan yang terhormat yang terpilih untuk melayani rakyat ini seharusnya dipertanyaan kesetiannya kepada rakyat, benarkah mereka memang benar – benar melayani rakyat? Apakah kesetiannya mereka itu teruji? Dibandingkan dengan mbah maridjan yang ikhlas meninggal di tanah merapi, maukah para anggota DPR RI ikhlas gugur dalam memperjuangkan kepentingan rakyat? Hanya Tuhan yang tahu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s