Kritik sederhana mengenai buku Jesus di Hollywood

Standard

Segera setelah saya membaca hingga selesai karya Imam Karyadi Haryanto, Jesus di Hollywood, saya menyadari banyak hal baru yang saya dapatkan mengenai beberapa macam yang berkaitan dengan Yesus. Satu hal yang menarik adalah Yesus secara pribadi adalah manusia yang menarik bagi orang-orang yang tertarik pada diriNya dalam pengertian positif maupun negatif.

Namun, bukan hal itu yang ingin saya tengahkan dalam tulisan ini, namun secara khusus saya ingin mengkritik buku ini. Dalam konteks masyarakat pembaca, saya telah mempergunakan hak saya sebagai seorang pembaca yang apresiator maupun kritikus, dalam membaca bahan bacaan saya secara pribadi, dan hak saya untuk memaparpakan penilaian saya baik kritik maupun pujian terhadap karya saudara imam ini.

Saya sadari bahwa karya saudara Imam merupakan adaptasi atau bahkan pengembangan dari karya kajian penelitian ilmiahnya dalam bidang keilmuan ilmu komunikasi, jurnalistik, sastra-intertekstual, semiotika dan film. Sesungguhnya jika merunut bidang-bidang ilmu yang merupakan keahlian imam, sungguhpun saya tidak memiliki kapasitas untuk memberikan penilaian berdasarkan latar akademisnya. Namun, karena telah dibukukan dan diperjualkan ke khalayak umum, karya Jesus di Hollywood, tidak lagi menjadi miliki dunia akademis disertai aturan-aturan ketat di dalamnya, namun buku itu telah menjadi milik masyarakat luas, artinya buku tersebut tidak lagi bebas nilai hanya berdasarkan metode belaka, namun harus pasrah ditempeli berbagai-bagai nilai sesuka publik.

Sebagai seorang akademis, sesunggunya begitu banyak pujian yang saya alamatkan terhadap buku ini. Kenyataan bahwa ternyata sang pembuat film Yesus menggiring para penontonya kepada mitos yang ia ciptakan dalam bentuk Hero, merupakan kesimpulan luar biasa di dalam buku ini, bagi saya. Namun, tentu tidak ada karya sempurna, maka saya mengalamatkan kritik membangun saya terhadap buku ini.

Kelemahan saudara imam adalah justru disaat dia memberikan interpretasi dia dalam bingkai subjektifitasnya (atau sebaliknya). Kenyataan bahwa dia mengatakan bahwa film The Last Temptation of Christ menghadirkan sisi humanis seorang Yesus dibandingkan dua film lainnya, The King of kings dan The Passion of Christ, justru menjadi kekuatan sekaligus kelemahan dalam buku ini. Dalam sisi kekuatan, tentu saja berdasar pada sisi hak interpretasi seorang penulis buku, artinya dia menyodorkan gagasannya kepada pembacanya, sepanjang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, selain itu hal ini membuat sang pembaca tidak berada di wilayah abu-abu, namun menunjukkan apa yang dia pikirkan dan dia rasakan terhadap apa yang ia kaji dan ia tulis.

Dalam metode penelitian sejarah, sejarawan yang berhasil adalah dimana karya historigrafinya memiliki sisi subjektifitas yang minimalis, artinya dia membiarkan apa yang ia tulis sebagaimana adanya peristiwa itu ada di dalam kajiannya. Ia tidak larut dalam subjektifitas, namun ia mengatur dan memberinya porsi yang pas. Dan, saya pikir imam berhasil melakukannya, walaupun tentu tidak berdasarkan metode sejarah, namun dalam bidang jurnalistik.

Bagaimanapun, bagi saya tetap itu merupakan suatu kelemahan, juga. Saya menganggap hal tersebut adalah sebuah kelemahan, karena dalam hal ini, penulis tidak melihat sisi unik dan dualitas pribadi Yesus. Memang benar, bahwa dalam penggambaran The Passion of The Christ, misalnya, Yesus digambarkan sebagai superman, yang walaupun di siksa sedemikian rupa, namun tetap sanggup berdiri, berjalan, memanggul SalibNya (yang dalam pertengahan perjalanan dibantu oleh Simon Kirene) hingga ke atas bukit golgota yang terjal, panas, dalam keadaan kehausan, dehidrasi berat dan udara yang gersang lagi panas. Namun, penggambaran humanis Yesus justru ditanggapi keliru oleh saudara imam. Jikalau humanis digambarkan dengan ekspresi peragu Yesus (yang meragukan diri sendiri dan Bapa, AllahNya dalam konteksNya sebagai manusia), sepertinya menjadi bonekanya Yudas, bahkan tidak bisa membedakan yang mana Malaikat dan Setan, tidak bisa menolak ajakan untuk hidup dalam pernikahan, dan yang lainnya, maka saya kira itu bukanlah sisi humanis yang masuk pada kategori humanis.

Memang, secara normal, kehidupan manusia adalah lahir-muda-tua-sakit dan mati (dan dalam film The Last Temptation of the Christ, hal tersebut digambarkan sempurna). Ekspresi dan sikap yang tegas, ragu, takut, ya itu adalah sikap manusia yang humanis, di dalam kelemahan manusia. Namun, yang perlu disadari, bahkan Yesus yang diyakini sebagai manusia seutuhnya, sangat diragukan memiliki kebutaan dalam membedakan yang mana Malaikat dan Setan, bahkan Yesus disini tidak memahami BapaNya, dimana dia bisa dibujuk rayu untuk turun dari Salib oleh Setan yang berwujud Malaikat dengan menyodori kisah Abraham dan pengurbanan Ishak.

Yang saya ingin ajukan, apakah sisi humanis harus berkorelasi dengan sisi imajinasi liar si pembuat film untuk menampilkan kisah yang berbeda dari Injil. Kenyataannya adalah sang sutradara, Martin Sorceress, tidak melihat hal yag baru yang ia lihat sebagai sisi humanis Yesus, tetapi dia ingin menggiring sang penonton untuk memberikan gagasan, bahwa Yesus tidak seperti yang mereka bayangkan. Kenyataan bahwa Yesus yang manusia seutuhnya diiringi dengan kenyataan bahwa Yesus adalah Ilahi sepenuhnya. Artinya di dalam kedaginganNya di dunia, Ia juga adalah Ilahi.

Saya tidak mengatakan bahwa Yesus tidak memiliki sikap takut dan ragu. Dalam kisah di getsemani, Ia bahkan meragukan diriNya, sehingga Ia meminta agar dilalukan cawan tersebut dari diriNya, namun sikap ragunya tidak membawa keraguan kepada visiNya, BapaNya, dan kapasitasNya, bahwa Ia memang harus melalui semua fase-fase tersebut. Saya kira, pada akhirnya, penafsiran terhadap Yesus memang mau tidak mau harus berdasarkan Injil dan Alkitab. Alkitab memang bukan buku sejarah dalam pengertian ilmiah, namun Alkitab adalah kitab suci sejarah jika kita melakukan perbandingan dengan kitab suci lainnya. Artinya, klaim sejarahnya tidak dapat dibantah sepanjang belum ada bukti perbantahannya berdasarkan sumber-sumber sejarah yang telah dikritik secara ilmiah berdasarkan metode sejarah.

Kenyataannya, The Last Tempation of Christ, memberi penafsiran liar terhadap sisi humanis Yesus (yang menjadi fokus buku ini) diluar apa yang tercantum di dalam Alkitab, sehingga penafsiran tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan, karena tidak ada bukti sejarah yang mendukungnya. Kenapa memerlukan bukti sejarah, karena Yesus adalah tokoh sejarah. Dan saya kira, motivasi utama untuk membuat alur kisah seperti itu, bukan berdasarkan pertimbangan sisi humanis, namun pertimbangan lainnya, terutama dalam sudut pandang si sutradara mengenai Yesus dan keyakinan terhadapnya.

Sungguhpun begitu, saya apresiasi dan akui, bahwa ini karya yang luar biasa, dan saya harap untuk dikembangkan lagi penelitian terhadap kajian-kajian seperti ini, bravo untuk Imam Karyadi Aryanto.

Advertisements

One response »

  1. yah, gw mah sukanya kripik fred, bukan kritik :P. tapi lo mesti ngebaca lebih cermat lagi deh. dari tiga film Yesus yang dibahas sama Imam, yg Last Tempation of Christ itu yg satu-satunya bukan berdasarkan Alkitab. Itu diambil dari novel yg judulnya Last Temptation of Christ karangan nikos kazantzakis. Artinya film itu sendiri simulakra, tiruan dari tiruan. Sehingga si Imam gak bisa disalahin karena fokus skripsinya itu adalah bahasan terbatas tentang penggambaran Yesus di film, gak melebar ke masalah kepribadian sutradara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s